Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 September 2010

Ilmuwan Inggris Temukan Jel untuk Cegah Penularan AIDS


Perang terhadap Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), terus mengalami kemajuan. Sejumlah ilmuwan yang dipimpin Profesor Robin Offord dan Olivier Hartley dari Universitas Jenewa, Swiss, baru-baru ini, berhasil mengembangkan sejenis molekul yang diyakini dapat melindungi manusia dari virus HIV/AIDS.

Sebuah protein yang disempurnakan dari protein sistem kekebalan tubuh manusia itu terbukti dapat melindungi monyet betina dari virus HIV. Rencananya, formula itu dikembangkan dalam bentuk jel yang dapat digunakan manusia untuk mencegah penularan HIV secara seksual. Dalam uji laboratorium, senyawa itu mampu melindungi sel dari serangan virus HIV selama satu hari penuh.

Artinya, secara teori, orang yang menggunakan jel kimia itu terlindungi dari serangan HIV/AIDS setidaknya 24 jam sebelum berhubungan seks. Maksimal pada tahun depan, efek samping jel tersebut terhadap manusia sudah dapat diketahui. Kemudian, obat pencegah itu diuji tingkat kemanjurannya dalam menghalangi infeksi HIV/AIDS pada kelompok yang berisiko tinggi.

Selanjutnya, Offord dan rekan-rekannya akan mengembangkan cara yang lebih murah dan mudah untuk membuat molekul tersebut. Seperti diketahui, HIV dapat memproduksi sel sendiri dalam aliran darah manusia, yaitu pada sel-sel darah putih (leukosit). Sel-sel darah putih yang biasanya melawan bila diserang virus, tidak akan melawan HIV.

Hal ini bisa terjadi karena HIV merupakan sejenis retrovirus atau virus yang dapat berkembang biak dalam darah manusia. Belakangan, virus tersebut menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih, termasuk limfosit, yang disebut "T-4" atau T-penolong (helper) yang juga dikenal dengan sel CD-4. Untuk dapat menginfeksi CD-4, HIV membutuhkan reseptor--satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dalam tubuh--yang disebut CCR5.

Menurut penelitian Offord dan timnya, orang yang mempunyai banyak sel CD-4 dengan sedikit CCR5 hampir dipastikan aman dari infeksi HIV. Sel itu berperan sebagai kurir sistem kekebalan kimia yang disebut regulated on activation normal T expressed and secreted (RANTES). Nah, RANTES inilah yang sedang dikembangkan oleh tim pimpinan Offord untuk mencegah infeksi HIV. (mydoc/t2t)

Dampak Orang Tua Perokok pada Anak

Sekali lagi, sebuah studi memperlihatkan bahwa merokok tidak hanya berbahaya bagi diri sendiri namun juga bagi lingkungan sekitar mereka. Laporan dari Dr Paolo Vineis seperti yang dilansir oleh The British Medical Journal menyatakan anak-anak memiliki resiko paling besar dari para orangtua perokok.

Dampak perokok pada non perokok (perokok pasif) sudah lama diketahui. Namun bahaya mengenai orangtua perokok pada kesehatan anak-anak baru kini mengemuka. Dari penelitian yang dilakukan oleh Dr Paolo Vineis disejumlah negara Eropa diketahui bahwa anak-anak mengalami dampak paling tinggi.

Yaitu sekitar tiga kali lipat terkena kanker paru-paru dan masalah yang berhubungan dengan pernafasan lainya dari orangtua yang perokok. Dr Paolo menyebut hasil penelitiannya kali ini sangat berbeda dengan penelitian dampak rokok pada kesehatan manusia.

Dr. Paolo Vineis merupakan seorang profesor dari Imperial College London (Inggris). Selama hampir tujuh tahun, Dr Paolo melakukan penelitian atas 123.000 orang dari 10 negara Eropa yang diketahui menjadi perokok pasif. Dalam kurun itu, 97 orang kemudian diketahui terkena kanker paru-paru, 20 terkena masalah dengan pernafasan dan 14 meninggal.

Resiko anak-anak terkena kanker paru-paru mengalami kenaikan sampai 3.6 kali dari orangtua perokok karena anak-anak ini telah menjadi seorang perokok pasif. Secara keseluruhan penelitian juga menunjukan resiko terkena penyakit yang berhubungan dengan paru-paru akan mencapai 30% bagi anak-anak perokok pasif ini.

Angka itu akan lebih tinggi dibandingkan dengan resiko para perokok yang sudah pensiun dari merokok. Di AS ditengarai 1900 hingga 2700 kasus kematian pada jabang bayi disebut-sebut karena mereka merupakan perokok pasif. Tidak heran Dr Paolo pun menyarankan agar sejumlah negara mulai memperkenalkan hukum untuk melindungi para perokok pasif ini.

Merokok dirumah memang tidak dilarang namun Dr Paolo menyarankan orang tua seharusnya tidak merokok di rumah saat anak-anak mereka berada disekitarnya. Dr. Norman Edelman memberikan saran lain bahwa seandainya harus merokok disarankan untuk tidak merokok diruangan tertutup. (mydoc/tutut)

Pola Tidur Dipengaruhi Gen


Para ilmuwan mengatakan mereka telah menemukan bukti lebih banyak bahwa kebiasaan bangun pagi dan bangun siang, hal itu terjadi disebabkan oleh gen perorangan.

Peneliti mengatakan penemuan tersebut telah membantu memahami lebih baik bagaimana tubuh manusia bekerja, dan pengaruhnya dalam ganguan tidur.

Seperti kata orang, tidur lebih awal, bangun juga lebih awal. Namun dalam dunia peneliti masalah tidur, hal itupun bisa disebut sebagai penyakit, sama seperti gejala yang dirasakan orang yang sulit tidur dimalam hari.

Tubuh manusia bekerja dengan siklus 24 jam. Mekanisme alamiah ini dikenal dengan istilah ritme Circadian, yang menentukan berapa lama kita tidur dan kapan.

Para peneliti, termasuk ahli saraf Dr. Louis Ptacek dari The Howard Hughes Medical Institute, menemukan suatu kerusakan dalam gen yang dikenal sebagai Per2yang mengatur ritme Circadian itu .

Dalam the Journal Nature, Dr. Ptacek dan rekannya pada Howard Hughes Institute, Universitas Califirnia di San Fransisco melaporkan penemuan mutasi gen yang lainnya pada gen lain yang dikenal sebagai CK1 Delta.

"Jika Anda bayangkan hal itu seperti perputaran roda-roda bergigi dalam jam, kalau gerakannya terlalu cepat mungkin ada masalah dalam salah satu roda atau dalam gen Per2, mungkin juga terjadi mutasi dalam roda yang berbeda, dalam kasus ini, CK1 Delta," jelas Dr. Ptacek yang menemukan adanya gen yang rusak dalam keluarga orang-orang yang bangun pagi.

Ketika gen tersebut dimasukkan kedalam tubuh tikus, binatang tersebut menunjukkan tingkah laku yang serupa. Ketika gen yang sama di suntikkan kepada lalat buah, itu mengacaukan ritme circadian mereka.

Dr. Ptacek mengatakan menggunakan gen yang sama untuk mempelajari tingkah laku spesies yang berbeda mungkin akan medorong penemuan mekanisme molekular yang terlibat dalam gangguan tidur. Ia memperkirakan 3 dari 10 orang memiliki beberapa bentuk ganguan tidur. Riset tentang gen yang mengatur jam tubuh dapat mengarah pada ditemukannya obat ganguan tidur pada orang-orang itu.

"Seiring bertambahnya usia, kita semua memiliki kecenderungan untuk tidur lebih awal dan bangun lebih dini. Dalam beberapa kasus, hal tersebut menjadi masalah bagi para manula yang terbangun ketika udara dingin, cuaca gelap dan kesepian. Jadi penemuan yang kita sebut normal dengan bertambahnya usia adalah contoh lain dimana obat yang membantu kita menyesuaikan jam tubuh kita mungkin akan memperbaiki kualitas hidup orang dengan lebih baik," tambah Dr. Ptacek.

Para peneliti mengatakan ke 6 anggota keluarga yang dipelajari itu karena bangun lebih awal juga menderita asma, depresi dan sakit kepala. Ilmuan percaya mungkin ada kaitan antara penyakit-penyakit tersebut dengan ganguan tidur.

Refleksiologi Tom Feroah dari Medical College of Winconsin di Milwaukee telah meneliti tikus-tikus yang hampir identik satu sama lainnya dan menyimpulkan berbagai perbedaan gen menyebabkan pola tidur yang berbeda.

Professor Feroah mengatakan tak mengherankan kalau orang-orang yang menderita ganguan tidur menderita berbagai penyakit. Ia mengatakan ritme Circadianmengatur rangkaian jam-jam kecil yang terdapat dalam tiap sel, yang akhirnya mengatur sistim kekebalan, pengaturan suhu, hormon dan fungsi-fungsi otak otak.

"Ada gabungan dari seluruh fungsi tubuh, dimana kita mencoba untuk tidur diluar kebiasaan, karena terbiasa dengan TV atau karena ada lampu yang hidup kita seakan-akan mengacaukan seluruh fungsi tubuh. Ini membuat kita merasa lebih tertekan dan tidak mampu juga melepaskan stress, dan tidak tidur dengan baik, tidak sembuh dengan normal kalau sakit dan memiliki kecenderungan menderita penyakit," jelas Feroah.

Orang-orang yang tidurnya tidak baik dan tidak bisa tidur lelap, menderita penyakit jantung lebih banyak, tekanan darah tinggi dan stroke, yang disebabkan gangguan pada system kekebalan,

Para peneliti berharap menemukan gen tidur lebih banyak. Studi laboratorium sejauh ini menunjukkan perubahan kecil pada gen CK1 Delta menenangkan kegiatan protein yang kelihatannya menggangu tidur. Ini mungkin kabar baik bagi orang yang tidak bisa memperoleh tidur malam yang baik. (voice/rit)

iPods Bikin Telinga Berdengung

Musik salah satu cara pendongkrak semangat, musik membuat hidup lebih hidup, tapi apa jadinya jika musik bikin telinga berdengung? Tentu bukan musik yang bikin telinga 'ngungung', tapi perilaku kita mendengarkan musik yang membuat pendengaran jadi tak tajam lagi.
Para peneliti di Australia menemukan sekitar seperempat pengguna iPods mengalami gangguan pendengaran. iPods mania atau pemakai portable music players lainnya sering beresiko mengalami kenaikan telinga berdengung (tinnitus) atau masalah pendengaran lainnya, kecenderungan ini lebih banyak dijumpai pada pengguna iPods yang gila-gilaan memutar volume iPods-nya.

National Acoustic Laboratories di Sydney meminta para responden mendengarkan musik dengan volume sebanding dengan perangkat bermesin motor (ie: mesin bor). Para peneliti menemukan bahwa tingkat dengungan (tinnitus) akan meningkat karena pendengaran tak bisa lagi mengadopsi kebiasaan normal telinga mereka.

Penelitian tersebut mencatat sekitar 25 persen responden cenderung mendengarkan iPods ataupun portable musik lainnya dalam kapasitas 'bising' sebanding dengan tingkat kebisingan suara-suara pada alat pemotong rumput maupun perangkat bermesin motor, dengan rata-rata intensitas diatas 85 decibels.

Dalam ukuran normal, orang dengan pendengaran normal audiogram-nya terletak antara 0 sampai 20 decibels, lebih dari 30 decibels dengan rentangan sampai 100 desibel berarti ada gangguan pendengaran.

Ukuran intensitas pendengaran normal dicatat dalam bentuk audiogram, dimana audigram yang terletak antara 30 sampai 40 decibels termasuk gangguan ringan. Dari 40 sampai 60 decibels termasuk skala sedang. Antara 60 sampai 90 desibel sudah berat. Sebagai gambaran, bunyi mesin bor jalanan sama dengan 100 desibel. Mesin pesawat terbang 120 desibel. Sedang ruangan yang tenang kira-kira sekitar 30 sampai 40 desibel.

"Menikmati alunan musik disco, menghadiri pesta dansa, bekerja di pabrik, mendengarkan musik sambil berkendara atau hanya mendengarkan musik didalam kamar, apapun kondisinya jika mengganggu telinga hal tersebut sudah termasuk kategori 'kebisingan'," ujar Professor Harvey Dillon, penggagas penelitian.

"Akan lebih baik jika mendengarkan musik dalam frekuensi normal, mungkin gangguan ini tak tampak dalam waktu dekat namun tak menutup kemungkinan memicu gangguan yang lebih berat beberapa tahun mendatang," tambah Prof. Dillon. (sky/rit)